JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER
MATA KULIAH EKOLOGI HEWAN
Mata
Kuliah
|
Ekologi
Hewan
|
|
Dosen
Pembina
|
Husamah,
S.pd
|
|
Program
Studi
|
Pendidikan
Biologi
|
|
Nama
Mahasiswa dan NIM/Kelas
|
Fadilah
Swantini (201110070311034) / 4A Biologi
|
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MALANG
APRIL
2013
1.
Konsep
waktu-suhu yang berlaku pada hewan
poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama
pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep
waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat
bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.
2.
Jelaskan
pemanfaatan konsep kelimpahan, intensitas dan prevalensi,
disperse, fekunditas, dan kelulus hidupan
dalam kaitannya dengan penetapan hewan langka!
3.
Jelaskan
aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme,
dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!
4.
Nilai
sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar
konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!
5.
Uraikan
satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan
secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!
6.
Apakah
manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah
satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya. (dalam satu kelas,
hewan yang dikaji tidak boleh sama)!
JAWABAN
1.
konsep
waktu secara singkat
artinya, waktu berkaitan dengan konsep suhu.
Dapat
dikatakan bahwa lama waktu yang diperlukan untuk perkembangbiakan hewan-hewan ektoterm tergantung pada suhu lingkungan.
Karena
pada hewan poikiloterm waktu (berlangsungnya proses perkembangan) merupakan fungsi dari suhu lingkungan.
Kasus ulat bulu yang menyerang
tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010, merupakan fenomena alam dan terjadi konsep waktu suhu. Pada saat itu, ulat bulu sedang mengalami musim kawin dengan suhu tinggi dan waktu yang diperlukan untuk perkembang biakan semakin cepat. Sehingga hama jenis ulat bulu tersebut
muncul dengan jumlah yang besar. Dalam bidang pertanian dan perkebunan harus mengetahui waktu
(bulan atau tahun) kapan meningkatnya jumlah populasi ulat bulu dan kisaran
suhu untuk meningkatkan perkembangan suatu serangga hama, sehingga dapat ditentukan waktu untuk memberantas hama ketika dalam bentuk larva atau pupa.
Menurut literatur :
Suhu tubuh menentukan kerja enzim enzim
yang membantu metabolism di dalam tubuh. Karena itu dari sudut pandang ekologi, kepentingan suhu lingkungan bagi hewan-hewan ektoterm tidak hanya berkaitan dengan aktivitasnya saja tetapi juga mengenai pengaruhnya terhadap laju perkembangannya. Dalam suatu kisaran suhu tertentu, antara laju perkembangan dengan suhu lingkungan terdapat hubungan linier. Konsekuensinya ialah bahwa untuk hewan-hewan ektoterm lama waktu perkembangan akan berbeda-beda, dengan kata lain,
pernyataan
berapa lamanya waktu perkembangan selalu perlu disertai dengan pernyataan pada suhu berapa berlangsungnya proses perkembangan itu. Karena pada hewan ektoterm (Poikiloterm),
waktu
(berlangsungnya proses perkembangan)
merupakan
fungsi dari suhu lingkungan, maka kombinasi waktu-suhu
yang seringkali
dinamakan waktu fisiologisitu mempunyai arti penting.
Konsep waktu-suhu penting untuk memahami hubungan antara waktu dengan keterjadian-keterjadian serta dinamika populasi hewan ektoterm (poikiloterm). Sering timbul jenis serangga dalam jumlah besar
yang terjadinya
hamper tiap tahun pada waktu
yang berbeda
beda, merupakan suatu fenomena alam.
Kejadian
tersebut bila ditelaah lebih lanjutakan terlihat bahwa terjadinya peledakan populasi itu berdasarkan pada jumlah hari derajat yang sama di atas suhu ambang perkembangan jenis serangga tersebut. Dengan menggunakan konsep-konsep waktu-suhu yang diwujudkan dalam bentuk jumlah hari-derajat,
maka
fenomena alam akibat
proses perkembangan
seperti peledakan populasi
,dapat
diramalkan kapan akan terjadinya.
Dalam
bidang pertanian dan perkebunan, peramalan terjadinya peledakan suatu populasi,
mempunayi
nilai guna yang sangat penting. Sebab dengan diketahuinya jumlah hari-derajat perkembangan suatu jenis serangga hama,
maka
akan dapat ditentukan lebih tepat,
kapan
waktu dan teknik pemberantasan hama tersebut,
Karena
memberantas telur atau
pupa berbeda
dengan memberantas hewan dewasanya (Anonymous. 2012).
2.
Kelimpahan populasi suatu spesies memiliki dua aspek yang berbeda yaitu aspek intensitas dan aspek prevalensi. Intensitas menunjukkan
aspek tinggi rendahnya kerapatan populasi dalam area yang dihuni spesies.
Prevalensi menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati spesies dalam
konteks daerah yang lebih luas (masalah sebaran). Kelangkaan suatu spesies dapat diakibatkan oleh satu atau beberapa
penyebab antara lain, area yang dihuni spesies menjadi sempit atau jarang.
Suatu habitat yang kondisi lingkungannya khas biasanya dihuni oleh spesies yang
telah teradaptasi secara khusus untuk lingkungan tersebut. Berubahnya kondisi
lingkungan dapat mengakibatkan kepunahan lokal dari spesies tersebut. Tempat-tempat
yang dapat dihuni spesies hanya cocok huni dalam waktu yang singkat, atau
tempat itu letaknya di luar jangkauan daya pemencaran (dispesal) spesies hewan.
Menurut literatur :
Dalam habitat alami yang ditempatinya, kerapatan populasi suatu
spesies hewan dapat berubah-ubah sejalan dengan waktu dalam batas-batas
tertentu. Batas atas kerapatan ditentukan oleh berbagai faktor, seperti aliran
energi atau produktivitas ekosistem, ukuran tubuh, laju metabolism, dan
kedudukan tingkatan trofik spesies hewan. Batas bawah kerapatan populasi belum
diketahui dengan pasti. Namun, dalam ekosistem yang stabil ada mekanisme
homeostatis dalam populasi, yang diduga memegang peranan penting dalam
menentukan batas bawah kerapatan.
Kelimpahan populasi suatu spesies mengandung dua aspek yang berbeda,
yaitu aspek intensitas dan aspek prevalensi. Intensitas menunjukkan aspek
tinggi rendahnya kerapatan populasi dalam area yang dihuni spesies. Prevalensi
menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati spesies dalam konteks
daerah yang lebih luas (masalah sebaran).
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu. Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut: prevalensi tinggi (prevalen) dan intensitasnya tinggi prevalensi tinggi (prevalen) tetapi intensitasnya rendah prevalensi rendah (terlokalisasi) tetapi intensitasnya tinggi prevalensi rendah (terlokalisasi) dan intensitasnya rendah.Badak Jawa dan Jalak Bali bersifat endemic dan merupakan spesies langka yang terancam kepunahan. Ktegorisasi status spesies dengan memperhitungkan dua aspek tersebut sangat penting terutama dalam menentukan urutan prioritas perhatian dan untuk melakukan upaya-upaya kelestarian spesies hewan langka yang terancam punah.
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu. Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut: prevalensi tinggi (prevalen) dan intensitasnya tinggi prevalensi tinggi (prevalen) tetapi intensitasnya rendah prevalensi rendah (terlokalisasi) tetapi intensitasnya tinggi prevalensi rendah (terlokalisasi) dan intensitasnya rendah.Badak Jawa dan Jalak Bali bersifat endemic dan merupakan spesies langka yang terancam kepunahan. Ktegorisasi status spesies dengan memperhitungkan dua aspek tersebut sangat penting terutama dalam menentukan urutan prioritas perhatian dan untuk melakukan upaya-upaya kelestarian spesies hewan langka yang terancam punah.
Spesies
yang terlokalisasi dan intensitasnya rendah dikategorikan sebagai spesies
langka. Adakalanya spesies yang intensitasnya tinggi namun prevalensinya rendah
pun dimasukkan dalam kategori tersebut.Faktor-faktor yang menjadi penyebab
langkanya suatu spesies sangat banyak. Namun, faktor-faktor tersebut mengkin
saja tidak sama antara spesies di suatu tempat tertentu dengan spesies di
tempat lain.Kelangkaan suatu spesies dapat diakibatkan oleh satu atau beberapa
penyebab berikut:Area yang dihuni spesies menjadi sempit atau jarang. Suatu
habitat yang kondisi lingkungannya khas biasanya dihuni oleh spesies yang telah
teradaptasi secara khusus untuk lingkungan tersebut. Berubahnya kondisi
lingkungan dapat mengakibatkan kepunahan lokal dari spesies
tersebut.Tempat-tempat yang dapat dihuni spesies hanya cocok huni dalam waktu
yang singkat, atau tempat itu letaknya di luar jangkauan daya pemencaran (dispesal)
spesies hewan.
Tempat-tempat
yang secara potensial dapat dihuni, menjadi tidak dapat ditempati akibat
kehadiran spesies lain yang merupakan pesaing, parasit atau predatornya.Dalam
area yang dapat dihuni, ketersedian sumber daya penting seperti makanan dan
tempat untuk berbiak menjadi berkurang.Variasi genetic spesies relatif sempit
sehingga kisaran tempat yang dapat dihuninya pun terbatas.Plastisitas fenotipik
individu-individu rendah, sehingga kisaran tempat yang dapat diuninya pun
terbatas.Kehadiran populasi-populasi spesies lain yang merupakan pesaing,
predator dan parasit menekan tingkat kelimpahan populasi spesies hingga rendah
sekali, jauh di bawah tingkat kelimpahan yang sebenarnya masih dimungkinkan
oleh ketersedian sumber dayanya (Anonymous. 2011).
3.
Dalam suatu ekosistem terjadi hubungan antar populasi satu dengan yang
lainnya atau organisme satu dengan yang lainnya yang disebut simbiosis. Konsep
interaksi populasi yaitu hubungan organisme satu dengan yang lain berupa
hubungan yang bersifat komensalisme, mutualisme, naturalism, parasitisme, dan
parasitoidisme. Suatu organisme (parasit) yang merugikan organisme lain (inang)
dalam suatu ekosistem disebut parasitisme. Di dalam hubungan parasitisme,
organisme parasit yang merugikan inangnya menjadikan inang sebagai tempat
kelangsungan hidupnya. Seperti dalam jurnal yang saya baca, contoh parasitisme
dalam ekosistem perairan pada terumbu karang yaitu siput (Thyca crystalline) dan bintang laut biru (Linckia laevigata). Siput berperan sebagai parasit dan bintang laut
sebagai inangnya. Hubungan yang bersifat parasitisme antara dua organisme yang
berbeda juga terjadi hamper semua filum di alam, termasuk pada moluska.
Parasit serangga berkembang di
dalam atau di luar individu serangga inang atau pada telur satu inang. Parasit
pada serangga dikarenakan cukup berbeda dari parasit yang sebenarnya untuk
memberikan kekhususan bias dikatakan sebagai parasitoid. Parasitoid memiliki
ciri khusus antara lain, ukuran parasit hampir sama dengan inangnya, bersifat
parasit pada saat bentuk larva. Contoh organisme parasitoidisme yaitu, ulat
grayak (Pseudaletia unipuncta) pada
tanaman jagung. Tidak pada tanaman jagung sendiri tetapi, di pinggir tanaman
jagung yang berdekatan dengan habitat tumbuhan liar.
Menurut literatur :
Suatu ekosistem, khususnya
ekosistem perairan, terjadi interaksi antara satu jenis organisme dengan jenis
organisme lainnya (simbiosis), baik itu berupa hubungan yang bersifat
mutualisme, komensalisme, maupun parasitisme (HALES 2006). Di dalam hubungan parasitisme,
organisme parasit memanfaatkan organisme lainnya (inang) sebagai tempat hidup
untuk melangsungkan sebagian besar siklus hidupnya. Inang seringkali merupakan tempat
tinggal sekaligus sebagai sumber makanan bagi parasit. Hal inilah yang kadang
menjadi salah satu faktor fisiologi yang sangat penting yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan, baik bagi parasit maupun inangnya (ELDER 1979). Dengan kata lain,
bahwa parasit memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kondisi
orgamisme lain yang dijadikan sebagai inangnya. Namun demikian, pada dasarnya
organisme parasit tidak membunuh inang pada saat parasit tersebut mengambil
keuntungan dari inang, bahkan walau parasit tersebut memiliki sifat pathogen
(menyebabkan penyakit) (ELDER 1979; BAUMILLER & GAHN 2002).
Hubungan yang bersifat parasitisme
antara dua organisme yang berbeda kemungkinan juga terjadi pada hampir semua
filum di alam, termasuk pada moluska. Cukup banyak jenis moluska yang bersifat
parasit bagi organisme lain, baik bagi organisme yang termasuk filum moluska
sendiri maupun organisme dari filum yang lainnya. Ada kalanya hubungan parasitisme
yang terjadi tersebut bersifat spesifik, yaitu satu jenis parasit hanya dapat
hidup pada inang tertentu saja (BAUMILLER 1990; BAUMILLER & GAHN 2002).
Salah satu contohnya adalah yang terjadi pada siput Thyca
crystallina (Eulimidae, Gastropoda) sebagai parasit spesifik pada bintang
laut biru Linckia laevigata(Ophidiasteridae, Asteroidea) (ELDER 1979; JANGOUX
1987; CRANDALL et al. 2008).
Siput parasit Thyca
crystallina dapat dengan mudah ditemukan di alam, yaitu menempel pada
bintang laut biru Linckia laevigata.
Hampir pada seluruh bintang laut biru dapat ditemukan gastropoda parasit ini,
bahkan pada satu individu bintang laut kadang terdapat lebih dari dua puluh
individu parasit (KOCHZIUS et al. 2009). Thyca
crystallina memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik yang dibuktikan
dengan pembentukan pola warna pada tubuh moluska tersebut yang menyerupai pola
warna bintang laut inangnya. Adaptasi warna
tersebut membuat Thyca crystallina tersamar
pada permukaan lengan bintang laut biru (ELDER 1979). Hubungan parasitisme
spesifik yang sejenis antara lain Thyca callista yang merupakan parasit
pada Phataria
unifascialis(SALAZAR & BONILLA 1998; NEIRA& CANTERA 2005),
serta Thyca nardoafrianti pada Nardoa
pauciformis (GUENTHER 2007) (Arbi dan Vimono, 2010).
Sumber : Arbi dan Vimono. 2010. Hubungan parasitisme antara siput Thyca crystalline dan bintang laut biru Linckia laevigatadi perairan Ternate,
Maluku Utara. UPT Loka konservasi biota laut bitung. Indonesia.
Parasit
serangga berkembang di dalam atau di luar individu serangga inang atau pada telur
suatu inang. Istilah parasitoid sering digunakan untuk parasit pada serangga
dikarenakan cukup berbeda dari parasit yang sebenarnya untuk memberikan
kekhususan (Doutt, 1964). Ciri khusus parasitoid antara lain, selama
perkembangan suatu individu parasitoid merusak individu inang, inang biasanya
pada tingkat taksonomi kelas yang sama, parasitoid pada umumnya ukurannya
hampir sama dengan inangnya, bersifat parasit pada saat larva saja; dewasanya
hidup bebas, tidak memperlihatkan heterocism (hidup dalam satu spesies inang
dan spesies lainnya), dan aksinya menyerupai predator yang lebih dari parasit
sesungguhnya dalam dinamika populasi hama (Anonymous. 2012).
4.
Sikap dan karakter yang harus
dimiliki siswa dalam mempelajari ekologi hewan adalah peka terhadap kondisi
lingkungan dan komponen di dalamnya (habitat hewan, relung, tingkah laku hewan
dan kondisi lingkungan yang disukai hewan). Karena mempelajari ekologi hewan
bukan hal yang mudah untuk itu perlu ditanamkan sikap cinta dan peka terhadap
apa yang ada di sekeliling siswa. Contoh, kita bisa mempelajari relung harimau dengan mengamati
tingkah laku harimau secara langsung di habitatnya, karena pelajaran yang didapat dari
pengamatan secara langsung akan lebih mudah diingat dan Siswa
memerlukan pemahaman tentang perilaku hewan, apakah memetakan pemulihan
populasi yang terancam punah atau menghindari wabah penyakit seperti flu
burung. Pentingnya penangkaran dan reintroduksi berarti siswa harus mengetahui
perilaku hewan karena memiliki bagian penting dalam pengelolaan kebun binatang
sebagai bagian dari program konservasi. Subyek perilaku hewan, ekologi dan
konservasi bergabung untuk menghasilkan materi bidang studi yang bersifat
ilmiah.
5.
Contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan
yaitu makrozobentos yang berperan penting dalam siklus nutrient di dasar
perairan. Makrozobentos dapat menunjukkan kualitas suatu lingkungan dan
memperlihatkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu.
Penggunaan makrozobentos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam
bentuk indeks biologi. Spesies indikator merupakan organisme yang dapat
menunjukkan kondisi lingkungan secara akurat yang juga dikenal sebagai
bioindikator.
Contoh makrozobentos yang
merupakan indikator yang baik untuk kualitas lingkungan air laut yaitu
Polychaeta. Polychaeta dapat memberikan respon terhadap polutan. Polychaeta
sering dijumpai pada lingkungan yang tercemar karena Polychaeta dikenal sebagai
organisme yang sangat toleran terhadap tekanan lingkungan seperti kontaminasi
oleh limbah pabrik, polusi sampah dan rendahnya kadar oksigen.
Menurut literatur :
Makrozobentos
mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.
Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk
kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke
habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya
perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos
terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah (Oey, et al1., 1978) (Anonymous. 2012).
Gaufin dalam Wilhm (1975) mengelompokkan
spesies makrozoobentos berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan
organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran. Organisme intoleran
yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi
lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik. Organisme
ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan
kualitas. Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup
pada kisaran kondisi ling-kungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan
organisme intoleran.Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup di perairan
yang banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan. Organisme
toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi
lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang
berkualitas jelek. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap berbagai
tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah di perairan yang tercemar
oleh bahan organik. Jumlah organisme intoleran, fakultatif dan toleran dapat
menunjukkan derajat pencemaran.
Spesies indikator
merupakan organisme yang dapat menunjukkan kondisi lingkungan secara akurat,
yang juga dikenal dengan bioindikator Tesky (2002). EPA (2002) menyatakan
bahwa sebagaimana di sistem perairan tawar, biota yang hidup di perairan
estuaria dan laut dapat menunjukkan kualitas perairan. Makrozoobentos
(seperti polychaeta) merupakan indikator yang baik untuk kualitas air
lingkungan laut karena respon mereka terhadap polutan dapat dibandingkan
terhadap sistem air tawar. Polychaeta dikenal sebagai organisme yang
sangat toleran terhadap tekanan lingkungan (seperti rendahnya kandungan
oksigen, kontaminasi organik di sedimen dan polusi sampah) sehingga mereka
digunakan sebagai indikator lingkungan yang tertekan(Anonymous. 2010).
Hewan yang hidup di dasar perairan adalah makrozoobentos. Makrozoobentos
merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistem perairan sehubungan
dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan. Selain itu
tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat digunakan
sebagai indikator pencemaran. Hewan bentos seringkali digunakan sebagai
petunjuk bagi penilaian kualitas air. Jika ditemukan limpet air tawar, kijing, kerang,
cacing pipih siput memiliki operkulum dan siput tidak beroperkulum yang hidup
di perairan tersebut maka dapat digolongkan kedalam perairan yang berkualitas
sedang (Rakhmanda, 2011).
Sumber : Rakhmanda, Andika. 2011.
Estimasi populasi gastropoda di sungai tambak bayan Yogyakarta. Jurnal Ekologi
Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan. UGM. Yogyakarta.
6.
Manfaat
pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi yaitu agar kita dapat
mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh hewan langka dan kita dapat melakukan
konservasi sehingga hewan langka dapat bertahan hidup. Pengetahuan tentang hal
yang berkaitan dengan pakan dan perilaku spesies yang berkohabitasi dalam suatu
komunitas diperlukan dalam konservasi untuk melestarikan spesies dan populasi
berbagai jenis satwa liar.
Contoh
hewan langkah yaitu Penyu Belimbing, Penyu
Belimbing memiliki kulit cangkang berwarna gelap
dengan bintik-bintik putih yang tidak sekeras penyu lain, sirip depannya panjang, ukurannya dapat mencapai
hingga 180 cm dan berat 500 kg, merupakan
penyu laut terbesar dan salah satu reptil terbesar yang masih hidup.
Menurut literatur
:
Nilai yang terkandung pada ekologi satwa liar
adalah pengetahuan tentang hal yang berkaitan dengan pakan dan perilaku spesies
yang berkohabitasi dalam suatu komunitas. Teori relung menyatakan bahwa spesies
yang berkohabitasi beradaptasi untuk menghindari atau mengurangi persaingan
interspesifik dalam memanfatkan sumber daya yang terbatas (Pianka.1981). Akan
tetapi hal tersebut masih sulit dipelajari, misalnya mekanisme pembagian
sumberdaya dan bagaimana pengaruh persaingan interspesifik terhadap relung
suatu spesies (Walter. 1991). Meskipun sulit, ketertarikan pada teori mendorong
banyaknya penelitian tentang bagaimana perbedaan eksploitasi sumberdaya dalam
suatu komunitas oleh spesies-spesies berkohabitasi. Spesies-spesies yang
berkohabitasi membagi sumberdaya seperti dalam bentuk perbedaan pemanfaatan
ruang dalam habitat (Vrcibradic & Rocha. 1996) (Anonymous. 2009).
Sumber:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5924/BAB%20I_%202009yhe.pdf?sequence=7
Penyu belimbing yang telah bertahan hidup selama lebih dari ratusan juta
tahun, kini menghadapi kepunahan. Dari perkiraan menunjukkan, selama dua puluh
tahun terakhir jumlah spesies ini menurun dengan cepat, khususnya di kawasan
pasifik: hanya sekitar 2.300 betina dewasa yang tersisa. Hal ini menempatkan
penyu belimbing pasifik menjadi penyu laut yang paling terancam populasinya di
dunia. Di kawasan Pasifik, seperti di Indonesia saja, populasinya hanya tersisa
sedikit saja dari sebelumnya (2.983 sarang pada 1999 dari 13000 sarang pada
tahun 1984). Untuk mengatasi hal tersebut, tiga Negara yaitu Indonesia, PNG dan
Kepulauan Solomon telah sepakat untuk melindungi habitat penyu belimbing. (Mou Tri National Partnership
Agreement (pdf)
Ekologi Dan Habitat Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis. Spesies ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan terbuka hanya muncul ke daratan pada saat bertelur.
Ekologi Dan Habitat Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis. Spesies ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan terbuka hanya muncul ke daratan pada saat bertelur.
Perkembang biakan Penyu belimbing betina dapat bertelur empat sampai
lima kali per musim, setiap kali sebanyak 60 sampai 129 telur. Anehnya, sekitar
setengah dari telur di setiap sarang sangat kecil untuk dapat berkembang dengan
baik, atau tidak memiliki kuning telur. Penyu belimbing bertelur setiap dua
atau tiga tahun dengan masa inkubasi sekitar 60 hari.
Makanan penyu belimbing
berukuran besar sangat luar biasa, karena hanya makan makanan rendah energi dan
rendah protein dari mahluk-mahluk lunak seperti ubur-ubur, cumi-cumi dan
tunicates (invertebrata seperti ubur-ubur laut).
Populasi dan distribusi
penyu belimbing dilaporkan terlihat di hingga di
wilayah utara, Alaska hingga di kawasan selatan di Tanjung Harapan, Afrika. Ancaman terlalu sedikit
individu ditengah ancaman yang bertubi-tubi; seperti spesies penyu laut
lainnya, penyu belimbing terancam oleh pengambilan telurnya, perburuan penyu
dewasa untuk diambil dagingnya, pengrusakan panatai tempat bertelur, dan
kematian tidak sengaja karena tertangkap oleh kapal ikan. Karena berbagai
ancaman ini, penyu belimbing termasuk dalam daftar Critically
Endangered yang disusun oleh IUCN Red List. Pengambilan secara
langsung; telur penyu diambil secara tradisional, khususnya di Asia, dan
praktek ini kemungkinan merupakanpenyebab turunnya populasi spesies ini di
dunia. Pengambilan secara tidak langsung; pada periode 1990an, setiap tahunnya
diperkirakan sekitar 1.500 penyu belimbing betina dewasa terbunuh di
jaring longline dan gillnet di kawasan Pasifik. Pencemaran; pencemaran
laut oleh plastik merupakan salah satu penyebab kematian. Phthalates,
bahan kimia yang berasal dari plastik, ditemukan dalam kuning telur penyu
belimbing. Penyu belimbing sering mengira plastik adalah ubur-ubur, makanan
kesukaan mereka dan kemudian tercekik saat menelannya. (http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/marine/howwework/endangeredmarinespecies/seaturtle_leatherback.cfm).
Menurut literatur
:
Nilai yang terkandung pada ekologi satwa liar adalah pengetahuan tentang
hal yang berkaitan dengan pakan dan perilaku spesies yang berkohabitasi dalam
suatu komunitas. Teori relung menyatakan bahwa spesies yang berkohabitasi
beradaptasi untuk menghindari atau mengurangi persaingan interspesifik dalam
memanfatkan sumber daya yang terbatas (Pianka.1981). Akan tetapi hal tersebut
masih sulit dipelajari, misalnya mekanisme pembagian sumberdaya dan bagaimana pengaruh
persaingan interspesifik terhadap relung suatu spesies (Walter. 1991). Meskipun
sulit, ketertarikan pada teori mendorong banyaknya penelitian tentang bagaimana
perbedaan eksploitasi sumberdaya dalam suatu komunitas oleh spesies-spesies
berkohabitasi. Spesies-spesies yang berkohabitasi membagi sumberdaya seperti
dalam bentuk perbedaan pemanfaatan ruang dalam habitat (Vrcibradic & Rocha.
1996) (Anonymous. 2009).
Sumber: http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5924/BAB%20I_%202009yhe.pdf?sequence=7


Titanium Arts® ceramic vs titanium | TITNIA
AntwoordVee uitBuy TITNIA ford escape titanium 2021 by ion titanium hair color TITNIA in titanium band rings TITNIA titanium nipple barbells at the TITNIA boutique. titanium nose stud